Sabtu, 3 Oktober 2026 · 22 Rabiulakhir 1448 H
Khutbah

Khutbah Jumat: Menjaga Lisan, Menjaga Kehormatan (Setiawan Misbachul Lail, M.Pd – Guru Al Islam SMK Muhammadiyah 1 Penajam Paser Utara)

AP

Administrator PCM Babulu

2 Oktober 2026, 11.12 WITA

Khutbah Jumat: Menjaga Lisan, Menjaga Kehormatan (Setiawan Misbachul Lail, M.Pd – Guru Al Islam SMK Muhammadiyah 1 Penajam Paser Utara)

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat kembali berkumpul menunaikan kewajiban shalat Jumat berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri khususnya, dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, sebab hanya dengan bekal takwalah kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengannya kita bisa berdoa, mengaji, menasihati, dan mempererat silaturahmi. Namun lisan yang sama, jika tidak dijaga, dapat menjadi sumber petaka besar: merusak kehormatan diri, menyakiti sesama, bahkan menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka. Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan kembali bagaimana Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan.

Pertama: Setiap ucapan dicatat dan akan dipertanggungjawabkan

Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu kata pun yang keluar dari lisan kita, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial, yang luput dari catatan malaikat. Maka menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab keimanan yang kelak akan dihisab di hadapan Allah.

Kedua: Berkata baik atau lebih baik diam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Syafi'i, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi, mengajarkan bahwa sebelum berbicara hendaknya seseorang berpikir terlebih dahulu. Jika ucapan itu membawa manfaat, silakan disampaikan. Namun jika berpotensi menimbulkan mudarat atau bahkan hanya menimbulkan keraguan, lebih baik ditahan. Sebagian ulama bahkan berkata, seandainya setiap orang harus membiayai sendiri tinta malaikat pencatat amalnya, niscaya ia akan jauh lebih banyak diam daripada berbicara.

Ketiga: Bahaya ghibah dan dusta

Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya."

Perumpamaan ini begitu keras, menunjukkan betapa tercelanya ghibah di hadapan Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan menjelaskan, ghibah tetaplah ghibah meskipun apa yang dibicarakan itu benar adanya pada diri saudara kita; dan jika yang dibicarakan itu tidak benar, maka itu menjadi fitnah yang lebih berat lagi dosanya.

Keempat: Pentingnya tabayyun

Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun)."

Jamaah yang berbahagia, di zaman ini lisan tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga berpindah ke jari-jari kita melalui status, komentar, dan pesan di media sosial. Berapa banyak hoaks tersebar, berapa banyak permusuhan tersulut, hanya karena sebuah berita dibagikan tanpa lebih dulu ditabayyuni kebenarannya. Maka etika digital sesungguhnya adalah kelanjutan dari adab menjaga lisan: pikirkan dua kali sebelum mengetik, sebagaimana kita diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara.

Kelima: Ancaman neraka bagi lisan yang tidak terjaga

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, beliau menjawab:

الْفَمُ وَالْفَرْجُ

"(Yang disebabkan) mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa ibadah lahiriah seperti shalat, puasa, dan zakat tidak akan cukup menyelamatkan seseorang jika lisannya dibiarkan liar tanpa kendali.

Keenam: Keutamaan menjaga lisan

Sebaliknya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjanjikan kemuliaan besar bagi yang mampu menjaga lisannya:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, maka aku jamin baginya surga." (HR. Bukhari)

Beliau juga mengajarkan:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi)

Ketujuh: Perbanyak dzikir dan jadilah muslim yang menenteramkan sesama

Jamaah Jumat rahimakumullah, di antara cara terbaik menjaga lisan adalah menyibukkannya dengan dzikir dan istighfar, sehingga tidak ada ruang tersisa baginya untuk berkata sia-sia apalagi menyakiti orang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita, warga Babulu yang hidup berdampingan dalam satu kampung dan satu jamaah, senantiasa dapat menjaga lisan kita, sehingga tercipta ketenteraman, bukan perpecahan, di tengah-tengah kita.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، جَعَلَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ القَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا النَّاسُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Jamaah Jumat rahimakumullah, 

Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah Swt untuk menjaga lisan kita, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dan semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu berbuat baik dan membawa kebaikan bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.

ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.

ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Bagikan

Berita Terkait