Selasa, 29 September 2026 · 18 Rabiulakhir 1448 H
Khutbah

Khutbah Jumat: Pendidikan, Investasi Iman dan Peradaban (Setiawan Misbachul Lail, M.Pd.)

AP

Administrator PCM Babulu

29 September 2026, 18.24 WITA

Arsip
Arsip

Khutbah Jumat: Pendidikan, Investasi Iman dan Peradaban

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat kembali berkumpul menunaikan kewajiban shalat Jumat berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri khususnya, dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, sebab hanya dengan bekal takwalah kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari-hari ini kita menyaksikan anak-anak kita berangkat ke sekolah, ke madrasah, dan ke pengajian-pengajian. Sebuah pemandangan yang tampak biasa, namun sesungguhnya sedang berlangsung sebuah proses besar yang menentukan wajah generasi Babulu di masa depan: proses pendidikan. Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan kembali kedudukan pendidikan dalam pandangan Islam.

Pertama: Menuntut ilmu adalah bagian dari tujuan penciptaan manusia

Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah perintah shalat atau puasa, melainkan perintah membaca dan menuntut ilmu. Allah berfirman dalam Surat Al-'Alaq ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ayat ini menegaskan bahwa membaca, belajar, dan mengajar adalah fondasi peradaban Islam sejak awal. Allah juga menegaskan tujuan hidup manusia dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Maka setiap ilmu yang kita tuntut dan setiap pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak kita, sepatutnya diarahkan pada satu tujuan: agar mereka mengenal Allah dan mampu beribadah kepada-Nya dengan benar.

Kedua: Keluarga adalah madrasah pertama

Sebelum seorang anak mengenal bangku sekolah, ia lebih dulu belajar dari orang tuanya di rumah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah pengingat besar bagi kita sebagai orang tua di Babulu ini. Jangan sampai kita berhasil menyekolahkan anak-anak kita setinggi-tingginya, namun lalai menanamkan kejujuran, akhlak, dan pengenalan kepada Allah sejak dini. Pendidikan agama di rumah adalah pondasi yang tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada sekolah atau guru mengaji semata.

Ketiga: Tujuan pendidikan dalam Islam adalah kesatuan ilmu dan akhlak

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Ilmu pengetahuan dan akhlak tidak boleh dipisahkan. Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan dan penyalahgunaan, sementara akhlak tanpa ilmu akan kehilangan arah. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang melahirkan manusia dengan kecerdasan intelektual, kekuatan spiritual, dan kemuliaan akhlak sekaligus. Karena itu pula, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah, dari jalur yang dihasankan sebagian ulama)

Keempat: Menuntut ilmu adalah perjalanan sepanjang hayat

Islam tidak mengenal batas usia dalam menuntut ilmu. Allah menciptakan manusia yang lahir tanpa mengetahui apa-apa, lalu membekalinya dengan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana memperoleh pengetahuan. Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 78:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur."

Ayat ini mengajarkan bahwa proses belajar semestinya berlangsung sepanjang hidup, bukan berhenti setelah lulus sekolah atau menyandang gelar. Ketiga bekal itu perlu terus dilatih dengan hal-hal yang baik agar apa yang kita serap menjadi pengetahuan yang benar dan bermanfaat, dan agar kita terus tumbuh menjadi lebih baik hingga akhir usia.

Kelima: Ilmu yang bermanfaat adalah warisan yang tak pernah putus

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Harta dapat habis dan jabatan dapat berakhir, namun ilmu yang bermanfaat serta anak yang saleh akan terus mengalirkan pahala bagi orang tua yang mendidiknya. Maka mendidik anak dengan ilmu dan iman adalah investasi terbaik yang dapat kita wariskan, jauh melampaui harta benda.

Keenam: Pendidikan di tengah arus perubahan zaman

Jamaah yang berbahagia, kita hidup di zaman yang berubah sangat cepat. Anak-anak dan generasi muda Babulu kini tumbuh bersama gawai dan internet, yang membuka akses pengetahuan seluas-luasnya, namun pada saat yang sama juga membuka pintu bagi pengaruh yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai agama. Teknologi ibarat sebilah pisau: bermanfaat besar di tangan yang bijak, namun dapat mendatangkan bahaya di tangan yang tidak terbimbing.

Karena itu, kemajuan teknologi hendaknya kita perlakukan sebagai wasilah, yaitu alat untuk kebaikan, bukan sebagai ghayah, yaitu tujuan hidup itu sendiri. Anak-anak kita membutuhkan bekal iman dan akhlak yang kuat agar mampu memilah mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan diri mereka, sehingga mereka tidak terseret arus zaman melainkan menjadi generasi yang mengarahkan zaman kepada kebaikan.

Ketujuh: Tanggung jawab bersama

Jamaah Jumat rahimakumullah, mendidik generasi bukan hanya tugas guru di sekolah atau ustadz di TPA, melainkan tanggung jawab bersama antara orang tua, keluarga besar, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Babulu. Marilah kita jadikan pendidikan agama dan akhlak sebagai perhatian utama, agar kelak kita dapat meninggalkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia bagi tanah Babulu ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا النَّاسُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, khususnya memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam mendidik generasi penerus di Babulu:

ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.

ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.

ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ وَيَعْمَلُونَ بِهِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Bagikan

Berita Terkait