Rabu, 16 September 2026 · 5 Rabiulakhir 1448 H
Khutbah

Menghadapi Kemarau Panjang dengan Sabar, Syukur, dan Ikhtiar

AP

Administrator PCM Babulu

15 September 2026, 15.19 WITA

Google/ai
Google/ai

Menghadapi Kemarau Panjang dengan Sabar, Syukur, dan Ikhtiar

oleh Setiawan Misbachul Lail, M.Pd (Majelis Tabligh PCM Babulu)

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الـحَمْدَ لِلهِ، نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْـمَالِنَا، مَنْ يَـهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْـهَدُ أَن لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْـهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تـَمُوْتُـنَّ إِلَّا وَأَنْتـُمْ مُسْلِـمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat kembali berkumpul menunaikan kewajiban shalat Jumat berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri khususnya, dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, sebab hanya dengan bekal takwalah kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Beberapa bulan terakhir ini, kita merasakan musim kemarau yang cukup panjang. Sawah-sawah mengering, sumber air menyusut, sebagian saudara kita kesulitan mendapatkan air bersih, dan sebagian petani mungkin menghadapi ancaman gagal panen. Selama air masih deras mengalir dan sumur masih penuh, nilainya sering terasa biasa saja. Namun ketika kemarau berkepanjangan seperti sekarang, barulah kita merasakan betapa berharganya setiap tetes air yang selama ini kita anggap remeh.

Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Anbiya ayat 30:

وَجَعَلْنَا مِنَ الـْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Tanah yang retak, rumput yang menguning, dan sawah yang kering yang kita saksikan hari ini adalah pengingat nyata bahwa air bukanlah perkara sepele. Ia adalah nikmat Allah yang menopang seluruh kehidupan, mulai dari manusia, hewan ternak, hingga tanaman pertanian. Sepatutnya musim kemarau ini menjadi momentum bagi kita untuk lebih menghargai dan tidak lagi memboroskan air.

Datangnya musim kemarau bukanlah sesuatu yang aneh, sebab Indonesia memang memiliki pergantian musim hujan dan kemarau sebagai bagian dari sunnatullah, hukum alam ciptaan Allah. Karena itu, mempelajari cuaca, menjaga sumber air, dan mencegah kebakaran lahan adalah bentuk ikhtiar yang dianjurkan dalam Islam. Meski demikian, seorang mukmin tidak boleh berhenti pada sebab-sebab lahiriah semata, sebab yang menggenggam datang dan tertahannya hujan hanyalah Allah semata. Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 48:

"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan, dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira."

Karena itu, jangan sampai kemarau ini justru menjauhkan hati kita dari Allah. Sebaliknya, jadikanlah ia sebab untuk semakin sering menengadahkan tangan memohon kepada-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah

Jamaah yang berbahagia, kekeringan yang berkepanjangan tidak jarang diperparah oleh ulah tangan manusia sendiri: pembukaan lahan dengan cara dibakar, penebangan pohon secara serampangan, serta pemanfaatan air tanpa memperhatikan kelestariannya. Allah Ta'ala mengingatkan dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Allah juga berfirman dalam Surat Ar-Ra'd ayat 11:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Momentum kemarau ini semestinya mendorong kita untuk bermuhasabah secara bersama-sama sebagai satu kampung, satu kecamatan: sudahkah kita menjaga sungai dari sampah, menjaga sumber mata air, dan tidak membuka lahan dengan membakar? Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّـهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّـقُوا اللهَ وَلـْتَنْظُرْ نَـفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّـقُوا اللهَۚ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بـِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Bumi dan segala isinya adalah milik Allah semata, sebagaimana firman-Nya dalam Surat An-Nisa ayat 131:

"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi."

Manusia hanyalah penjaga sementara yang dititipi amanah untuk merawat, bukan pemilik yang bebas mengeksploitasi tanpa batas.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan mengajarkan bahwa menanam adalah amal yang bernilai sedekah:

"Tidak seorang pun muslim yang menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari)

Maka menjaga pohon, menjaga hutan, dan menahan diri dari membakar lahan bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan bagian dari ibadah dan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat yang telah dititipkan-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak istighfar, agar Allah membukakan pintu rezekinya.  Allah berfirman dalam QS Nuh ayat 10-11

“Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” 

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ayat ini merujuk pada seruan Nabi Nuh as kepada umatnya. Nabi Nuh meminta umatnya agar memohon ampun kepada Allah karena telah menyembah berhala. Jika mereka memohon ampun, maka Allah akan mengampuninya, dan membebaskan mereka dari kesulitan-kesulitan akibat kekeringan.

Nabi Nuh juga menyampaikan janji-janji Allah kepada umatnya. Jika mereka yang bersedia memohon ampun, maka Allah akan menuturkan rezekinya sebagaimana yang dibutuhkan umat Nuh saat itu.  Di antaranya, Allah akan menurunkan hujan lebat yang akan menyuburkan tanah mereka dan memberikan hasil yang berlimpah sehingga mereka akan makmur, serta Allah akan menganugerahkan kepada mereka kekayaan yang berlimpah.

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Selain memperbaiki hubungan dengan Allah, ikhtiar lahiriah tetap harus kita jalankan bersama sebagai warga Babulu: menghemat penggunaan air bersih, tidak membiarkan air terbuang sia-sia, membantu saudara-saudara kita yang kesulitan air melalui gotong royong, serta menahan diri sepenuhnya dari praktik membuka lahan dengan cara membakar yang hanya akan memperparah kekeringan dan menimbulkan kabut asap yang membahayakan kesehatan bersama.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya baik baginya, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)

Semoga kesabaran, muhasabah, dan kesungguhan doa kita di tengah ujian kemarau ini menjadi ladang pahala, sekaligus menjadi jalan bagi Allah untuk segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi tanah Babulu.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بـِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الـْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيـْمُ


 

KHUTBAH KEDUA

اَلـْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كـَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

أًيُّـهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّـهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, khususnya memohon kepada Allah agar kemarau panjang di Babulu dan sekitarnya segera diangkat dan diganti dengan hujan yang membawa berkah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مُرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang mungkin menjadi sebab tertahannya hujan-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang menjaga bumi dan tidak membuat kerusakan di dalamnya. Mudahkanlah para petani dan seluruh warga Babulu dalam menghadapi musim kemarau ini. Jauhkanlah kami dari kekurangan air, dari kebakaran lahan dan hutan, serta dari segala bencana yang ditimbulkannya. Satukanlah hati kami untuk saling bergotong royong dan berbagi di tengah keterbatasan.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الـْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Bagikan